Minggu, 11 September 2011

Father

Jantung Zefanya seakan mau copot ketika ia mendengar berita itu. Sungguh tidak menyangka sosok ayah yang selama ini dikenalnya begitu terhormat, disiplin dan berwibawa memiliki masa lalu yang begitu kelam. Ternyata ada begitu banyak hal yang disembunyikan darinya. Berjuta rasa timbul ketika satu per satu fakta disodorkan kepanya. Keingintahuan akan bagaimana fakta sebenarnya seakan muncul menjadi suatu luapan emosi yang tak tertahankan. Namun, tiba-tiba ia terfikir, Semua orang pernah melakukan kesalahan karena semua manusia berdosa (roma 3:23), begitu juga sang ayah. Tidak ada manusia yang sempurna, karena sesungguhnya kita adalah debu.

Ingatan akan ayahnya mulai muncul satu per satu,, teringat waktu kecil dulu, ayahnya selalu marah kalau ia tidak belajar. Bahkan walaupun sang ayah sudah di kantor buat jaga malam, tapi kalau dia belum mengajar zefanya hari itu, dia akan pulang ke rumah dulu untuk mengajar. Tak lupa pula setiap belajar, pasti tersedia rotan ataupun ikat pinggang di tangan sang ayah terutama waktu dia belajar membaca, tiap ada salah baca pasti kena pukul. Ayahnya selalu mengatakan “TIDAK BOLEH BODOH”, oleh karena itu Zefanya selalu berusaha agar tidak kena pukul.

Ia ingat lazimnya anak-anak yang lain ia juga sering bertengkar dengan saudara mereka. Zefanya ingat kalau ia dan adeknya bertengkar, dan ayahnya sudah turun tangan, pokoknya tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar, keduanya pasti kena marah. Yang akan selalu dalam ingatan adalah ketika ia dan adeknya di masukkan ke dalam gudang selama beberapa jam karena bertengkar terus. Ayah selalu bilang saudara harus saling menyayangi.

Zefanya ingat ayahnya selalu setia jadi tukang ojek, mengantar jemputnya tiap hari ke sekolah. Kalau sang ayah telat 5 menit saja, Zefanya langsung menangis dan marah-marah pada sang ayah, padahal sang ayah datang terlambat karena tugas dan tuntutan profesi. Sang ayah selalu berkata menunggu membuatmu menjadi orang yang sabar.

Tiap penerimaan rapor, ranking satu nyaris tak pernah lepas dari tangan Zefanya ketika SD. Sang ayah pasti selalu senang, namun tidak begitu dengan Zefanya. Zefanya iri melihat teman-temannya yang baru ranking 2 dan 3 saja pasti dapat hadiah dari orangtuanya, tapi Zefanya tidak. Sang aja selalu berkata, Jangan bekerja untuk mendapatkan sebuah hadiah.

Sang ayah selalu mengajarkan kedisiplinan. Barang-barang tidak boleh pindah dari tempatnya, kalau dia butuh sesuatu harus lagssung ada dihadapannya. Kalau tidak ada, tunggulah sang ayah akan berkoar-koar untuk waktu yang lama. Sang ayah juga menerapkan waktu makan, waktu tidur, waktu belajar, waktu nonton dan waktu bermain buat Zefanya. Hal yang selalu jadi waktu mengerikan di rumah adalah waktu pagi, pkoknya ketika sudah waktunya untuk ke sekolah harus ke sekolah, siap ataupun tidak siap.

Beranjak SMP, saingan yang dihadapi Zefanya bertambah banyak, Ia tidak seperti dahulu lgi yang bisa mengantongi ranking satu tiap semesternya. Tiap penerimaan rapor rasanya jantungnya mau copot, takut kalau-kalau sang ayah marah. Tapi ternyata tidak, sang ayah malah semakin mensupport Zefanya, N mengingatkannya Jangan bekerja untuk mendapatkan hadiah, tapi yang terpenting kamu sudah berusaha.

Mungkin memang bapak Zefanya adalah orang yang kasar tapi dari situLah iya belajar bahwa kehidupan tdk seperti dongeng. Dan setelah besar ia menyadari, memang kehidupan ini sulit. Entah bagaimana masa lalu bapak, Zefanya gak peduli.. Satu hal yang ia tau ada sang aja mencintainy, dan begitulah cara sang ayah mencintainya.. Cinta bukan selalu ditampakkan dalam hal-hal romantis, namun juga hal-hal yang tegas bahkan kasar. Dan Zefanya mencintainy ayahnya 

0 komentar:

slide show

Loading...

wibiya widget