Jumat, 07 Agustus 2026

Still Held While I Wait

      


Akhir-akhir ini hidup terasa lebih berat dari biasanya.

Ada banyak hal yang masih berusaha kupahami. Ada pertanyaan yang belum menemukan jawabannya. Ada doa-doa yang terus kubawa kepada Tuhan, tanpa tahu bagaimana akhirnya nanti.

Kadang aku bisa begitu yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Tapi di hari lain, rasanya aku hanya berusaha melewati satu hari demi satu hari.

3 Agustus 2026 adalah salah satu hari itu.

Pagi itu, dalam perjalanan menuju kantor, aku mengalami kecelakaan. Ojek yang kutumpangi berusaha menghindari bus TransJakarta dan akhirnya bersenggolan dengan motor lain.

Semuanya terjadi begitu cepat.

Dan ketika akhirnya aku menyadari apa yang baru saja terjadi, hanya satu hal yang benar-benar kupahami:

Aku baik-baik saja.

Tidak terluka. Tidak ada sesuatu yang serius terjadi.

Aku selamat.

Di tengah kondisi hati yang sebenarnya sedang membawa begitu banyak beban, kejadian itu membuatku terdiam.

Belakangan ini pikiranku begitu penuh dengan hal-hal yang tidak bisa kukendalikan. Tentang sesuatu yang begitu ingin kupertahankan. Tentang masa depan yang belum bisa kulihat. Tentang doa-doa yang belum kutahu jawabannya.

Tetapi pagi itu, di tengah semua ketidakpastian tersebut, Tuhan mengizinkanku melihat satu hal dengan sangat jelas:

Aku masih dalam penjagaan-Nya.

Kecelakaan itu tidak membuat pergumulanku tiba-tiba selesai.

Aku tetap pulang membawa pertanyaan yang sama.

Doaku masih sama.

Ketidakpastianku masih ada.

Tetapi aku masih di sini.

Masih bernapas.
Masih diberi kesempatan menjalani hari.
Masih dijaga.

Dan entah bagaimana, renungan yang kubaca pada 3 Agustus itu berbicara tepat tentang sesuatu yang sedang sulit kulakukan:

Waiting for God.

“Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!”
Mazmur 27:14

Renungan itu mengingatkanku pada Daud.

Di bagian akhir Mazmur 27, doanya dipenuhi kegelisahan. Tetapi sebelum berbicara tentang ketakutannya, Daud terlebih dahulu mengingat siapa Tuhan baginya:

Terangnya.
Keselamatannya.
Benteng hidupnya.

Keadaannya belum tentu berubah.

Tetapi Tuhannya tidak berubah.

Dan rasanya, itulah yang perlu kudengar saat ini.

Menantikan Tuhan bukan berarti aku tidak boleh takut.

Percaya kepada Tuhan juga bukan berarti aku sudah tahu bagaimana semua ini akan berakhir.

Mungkin iman dalam masa seperti ini justru sesederhana terus mengingat siapa Tuhan, ketika aku belum mengerti apa yang sedang Dia kerjakan.

Renungan hari itu mengatakan bahwa ketika Tuhan seolah menunda menjawab doa kita, kita tetap dapat menaruh kepercayaan kepada sifat-Nya yang tidak berubah.

Dan aku merasa:

Itulah aku sekarang.

Sedang menunggu.

Menunggu jawaban.
Menunggu kejelasan.
Menunggu Tuhan menunjukkan jalan selanjutnya.

Mungkin 3 Agustus bukan hari ketika Tuhan menjawab semua pertanyaanku.

Tetapi hari itu, di tengah salah satu masa terberat dalam hidupku, aku mengalami kecelakaan—

dan Tuhan membawaku melewatinya dengan selamat.

Seolah ada pengingat kecil di tengah penantianku:

Aku belum memberikan semua jawaban yang kamu tunggu. Tetapi Aku masih di sini.

Suatu hari nanti, ketika aku kembali membaca tulisan ini, mungkin keadaan sudah sangat berbeda.

Mungkin saat itu aku sudah tahu jawaban dari doa-doa yang hari ini masih membuatku menangis.

Dan ketika hari itu datang, aku ingin mengingat 3 Agustus bukan hanya sebagai hari ketika aku mengalami kecelakaan.

Aku ingin mengingatnya sebagai salah satu hari ketika, di tengah ketidakpastian, Tuhan kembali mengingatkanku akan kebaikan dan penjagaan-Nya.

Aku belum tahu bagaimana cerita ini akan berakhir.

Tetapi untuk hari ini, aku tahu kepada siapa aku menaruh pengharapanku.

Tuhan adalah terangku.
Tuhan adalah keselamatanku.
Tuhan adalah benteng hidupku.

Dan untuk segala sesuatu yang belum kutahu jawabannya,

aku akan menantikan Tuhan.

“Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!”
Mazmur 27:14 ❤️

0 komentar:

slide show

wibiya widget