Ada kecewa. Ada marah. Ada sesuatu yang rasanya sulit begitu saja dilepaskan. Lemuel tahu Mama sedang marah.
Mama pikir mungkin seorang anak hanya akan melihat persoalan secara sederhana: siapa yang salah dan siapa yang benar.
Ternyata Lemuel melihat sesuatu yang lain.
Dengan caranya yang sederhana, Lemuel mengajak Mama untuk mengampuni.
Serahkan kepada Tuhan. Biarlah Tuhan yang mengurus apa yang tidak bisa kita selesaikan sendiri.
Yang paling membekas bagi Mama adalah bahwa Lemuel tidak membuat Mama merasa bahwa kemarahan itu tidak boleh ada. Lemuel mengerti mengapa Mama marah.
Tetapi pada saat yang sama, ia juga tidak ingin kemarahan itu tinggal selamanya. Dengan polosnya, ia hanya berharap nanti, kalau semuanya sudah tidak marah lagi, kami bisa kembali baik-baik saja.
Mama terdiam.
Karena anak yang selama ini Mama pikir sedang Mama ajari tentang pengampunan, hari itu justru mengingatkan Mama bagaimana caranya mengampuni.
Anak yang Mama doakan supaya memiliki hati yang lembut, hari itu sedang menjaga hati Mama supaya tidak menjadi keras.
Dan anak yang Mama ajarkan untuk menyerahkan hidupnya kepada Tuhan, hari itu berkata dengan caranya sendiri:
“Serahkan saja kepada Tuhan.”
Anakku...
Tentang Lemuel, Alkitab tidak banyak menceritakan kejayaannya sebagai seorang raja. Kita bahkan tidak diberi banyak catatan tentang pencapaiannya.
Namun ada sesuatu yang justru dipilih untuk diabadikan:
hikmat yang ditanamkan mamanya kepadanya.
Seorang mama yang mempersiapkan anaknya untuk menghadapi hidup.
Menjaga kemurnian.
Menguasai diri.
Tidak menyalahgunakan kekuatan.
Membela mereka yang lemah.
Memimpin dengan keadilan.
Dan menghargai perempuan yang takut akan Tuhan.
Mama menyadari bahwa ada begitu banyak bagian dari hidupmu yang tidak bisa Mama kendalikan.
Mama takut.
Bagaimana seorang anak dapat bertumbuh menjadi pemimpin yang baik ketika tidak semua hal yang ia lihat adalah teladan yang baik?
Mama ingin melindungimu dari banyak hal. Mama ingin memastikan bahwa apa yang kamu lihat, dengar, dan alami tidak meninggalkan luka yang suatu hari membentukmu menjadi seseorang yang berbeda dari laki-laki yang selama ini Mama doakan.
Mama takut.
Takut sekali...
Kadang Mama bahkan bertanya,
cukupkah yang Mama tanamkan?
Tetapi perlahan Tuhan mengingatkan Mama akan sesuatu:
Mama bukan satu-satunya yang sedang membentuk hidupmu.
Ada Tuhan.
Dan Tuhan jauh lebih mampu menjaga hatimu daripada kemampuan Mama untuk mengendalikan seluruh keadaan di sekelilingmu.
Mama kemudian melihat nasihat mama Raja Lemuel dengan cara yang berbeda.
Ia tidak mempersiapkan anaknya untuk sebuah dunia yang sempurna.
Ia mempersiapkan anaknya untuk dunia yang nyata.
Dunia di mana seorang raja akan bertemu dengan kuasa dan godaan. Dunia di mana ada ketidakadilan. Dunia di mana ia harus belajar mengendalikan dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain.
Karena itu, ia membekalinya dengan hikmat.
Dan mungkin itulah bagian Mama juga.
Bukan memastikan bahwa hidupmu hanya memperlihatkan hal-hal yang baik—karena Mama tidak akan pernah sanggup melakukannya.
Tetapi terus menanamkan kebenaran, supaya ketika suatu hari kamu berhadapan dengan sesuatu yang tidak baik,
kamu tahu bahwa kamu tetap dapat memilih yang baik.
Mama tidak dapat menentukan setiap contoh yang akan kamu lihat.
Tetapi Mama dapat berdoa agar Tuhan memberimu hikmat untuk membedakan mana yang patut kamu teladani dan mana yang harus berhenti di generasimu.
Dan sisanya, Mama serahkan kepada Tuhan.
Perjalananmu masih sangat panjang. Masih akan ada banyak hal yang harus kamu pelajari.
Dan ternyata, masih banyak juga yang harus Mama pelajari.
Tetapi hari itu rasanya Tuhan mengizinkan Mama mengintip sedikit pekerjaan-Nya.
Ada belas kasih yang sedang bertumbuh.
Ada kemampuan untuk melihat kesalahan tanpa harus membenci orang yang melakukan kesalahan.
Ada kerinduan akan damai.
Dan ada iman sederhana yang percaya bahwa ketika tangan kita tidak sanggup menyelesaikan semuanya,
tangan Tuhan tetap sanggup.
Untuk Lemuel, suatu hari nanti
Lemuel,
kalau suatu hari nanti kamu sudah dewasa dan membaca tulisan ini, mungkin kamu sama sekali tidak mengingat percakapan kecil itu.
Tidak apa-apa.
Mama ingin mengingatnya untukmu.
Mama tidak tahu akan menjadi apa kamu nanti.
Mama tidak tahu seberapa jauh Tuhan akan membawamu, pencapaian apa yang akan kamu miliki, atau bentuk kepemimpinan seperti apa yang suatu hari Tuhan percayakan kepadamu.
Tetapi Mama berharap satu hal ini tidak pernah berubah:
Jadilah kuat tanpa menjadi keras.
Pegang kebenaran tanpa kehilangan kasih.
Ampuni tanpa menyebut yang salah sebagai benar.
Belalah mereka yang membutuhkan.
Dan ketika ada perkara yang terlalu berat untuk kamu bawa sendiri, ketahuilah kapan harus menyerahkannya kepada Tuhan.
Delapan tahun lalu, Mama berdoa agar kamu bertumbuh menjadi laki-laki yang mengasihi Yesus dan berjalan dalam hikmat-Nya.
Hari itu, untuk sesaat, Mama melihat doa itu mulai bertumbuh di depan mata Mama.
Mama tidak bisa mengendalikan semua yang akan membentukmu.
Tetapi Mama percaya Tuhan lebih besar daripada semuanya.
Eight years ago, Mama prayed.
Today, Mama sees a little fruit.
And just like before,
Mama will keep trusting God with the rest. ❤️



0 komentar:
Posting Komentar