Beberapa minggu terakhir membuatku menyadari bahwa hidup dapat berubah begitu cepat.
Ada hari ketika aku merasa cukup kuat.
Ada hari ketika satu hal kecil saja dapat menghabiskan hampir seluruh energiku.
Ada pagi ketika aku bangun, berolahraga, mengantar anakku sekolah, berjalan menuju kantor dan menjalani hari seperti biasa.
Ada juga hari ketika pikiranku begitu penuh sehingga melakukan pekerjaan sederhana saja terasa berat.
Aku sering ingin mengetahui jawabannya sekarang.
Apa yang sebenarnya sedang Tuhan kerjakan?
Ke mana semua ini akan membawa hidupku?
Apa yang harus kulakukan?
Apa yang harus kupertahankan?
Apa yang harus kulepaskan?
Tetapi mungkin Tuhan belum sedang memberikan kepadaku seluruh jawabannya.
Mungkin untuk sekarang, Tuhan hanya sedang mengajariku berjalan satu hari demi satu hari.
Dan ketika aku melihat kembali saat teduhku beberapa hari terakhir, aku baru menyadari sesuatu.
Tanggal 26 Juli aku membaca tentang Living Water of Christ.
Ketika hati mencari sesuatu untuk mengisi kekosongan, aku diingatkan lagi bahwa ada kehausan dalam jiwa yang tidak dapat dipuaskan oleh manusia.
Lalu datang Words That Honor God.
Quick to listen, slow to speak and slow to become angry.
Seolah Tuhan mengingatkanku bahwa bahkan ketika hati sedang penuh, aku masih dapat memilih bagaimana aku berbicara.
Kemudian tanggal 28 Juli: Recovering from Betrayal.
Aku tidak ingin menuliskan banyak hal tentang hari itu.
Perhaps someday, when I read this again, I will remember.
And that will be enough.
Tetapi setelah itu renungan-renunganku terus berjalan.
The Company We Keep.
New Life for Dead Hearts.
The Battle Is God's.
Dan kalimat itu tinggal cukup lama dalam pikiranku:
The battle is not yours, but God's.
Mungkin karena selama ini aku terlalu sibuk mencoba memenangkan semua pertempuran.
Mencari jawaban.
Memperbaiki keadaan.
Menjaga semuanya supaya tidak berantakan.
Padahal ada pertempuran yang memang bukan milikku untuk dimenangkan.
Lalu Agustus datang.
God's Better Country.
Aku tersenyum ketika mengingatnya sekarang.
Karena ternyata tidak ada kehidupan di dunia ini yang benar-benar sempurna.
Tidak ada manusia yang dapat menjadi rumah yang tidak pernah mengecewakan.
Mungkin itulah mengapa hati manusia selalu mempunyai kerinduan akan sesuatu yang lebih baik.
Kemudian:
Walking in Integrity.
Whoever walks in integrity walks securely.
Aku tidak dapat mengendalikan pilihan semua orang.
Aku tidak dapat menentukan bagaimana orang lain menjalani hidupnya.
Tetapi aku masih mempunyai satu tanggung jawab:
bagaimana aku sendiri memilih berjalan di hadapan Tuhan.
Dan tanggal 3 Agustus:
Waiting for God.
Wait for the Lord; be strong and take heart and wait for the Lord.
Mungkin aku memang tidak harus mengetahui semuanya sekarang.
Mungkin tidak mengambil keputusan ketika hati sedang paling lelah bukanlah kelemahan.
Sometimes waiting is also an act of faith.
Lalu Tuhan berbicara tentang The Help God Provides.
Tentang pertolongan-Nya yang kadang hadir melalui cara-cara yang bahkan tidak kita sadari.
Kemudian Family in God.
Dan aku kembali mengingat bahwa sebelum semua identitas lain yang kumiliki, aku adalah anak Tuhan.
Begitu juga anak yang Tuhan percayakan kepadaku.
Ada begitu banyak hal tentang masa depannya yang tidak bisa kukendalikan.
Tetapi aku dapat terus membawanya kepada Tuhan.
Aku dapat memeluknya.
Mengatakan bahwa aku mencintainya.
Berdoa bersamanya.
Mengantarnya sekolah.
Mendengarkan ceritanya.
Membiarkannya bermain dan tertawa.
Dan sebisa mungkin menjaga agar pergumulan orang-orang dewasa tidak mengambil sukacita masa kecilnya.
Lalu kemarin, 6 Agustus:
Part of God's Story.
Ada satu pertanyaan sederhana:
“Has not the Lord gone ahead of you?”
Entah mengapa kalimat itu terasa berbeda ketika hidup sedang penuh ketidakpastian.
Karena aku sedang berdiri di halaman cerita yang belum selesai.
Aku tidak tahu apa yang tertulis di halaman berikutnya.
Tetapi kalau Tuhan memang sudah berjalan di depanku, mungkin aku tidak harus melihat seluruh jalan untuk berani mengambil satu langkah berikutnya.
Dan hari ini, 7 Agustus:
God Is Greater.
Aku tidak ingin mengartikan rangkaian renungan ini seolah-olah Tuhan sedang memberikan kepadaku sebuah ramalan tentang bagaimana semuanya akan berakhir.
Aku tidak tahu.
Dan mungkin memang bukan itu maksudnya.
Tetapi aku tahu bahwa setiap pagi, ketika pikiranku dapat pergi ke begitu banyak tempat, Firman Tuhan seperti menarikku kembali.
Come back.
Kembali kepada Tuhan.
Kembali kepada kebenaran.
Kembali kepada integritas.
Kembali kepada kasih.
Kembali kepada hari ini.
Karena mungkin iman bukanlah kemampuan untuk mengetahui bahwa semua yang kita inginkan pasti akan terjadi.
Iman adalah percaya bahwa apa pun yang terjadi, Tuhan tetap Tuhan.
Dan mungkin suatu hari nanti aku akan membaca tulisan ini dari tempat yang sama sekali berbeda.
Saat itu aku mungkin sudah mengetahui jawaban dari banyak pertanyaan yang hari ini masih membuatku menangis.
Aku mungkin akhirnya memahami mengapa Tuhan mengizinkan beberapa jalan menjadi begitu sulit.
Atau mungkin beberapa pertanyaan tetap tidak pernah mendapatkan jawaban.
But I hope I will remember this:
Pada hari-hari ketika aku merasa tidak tahu harus berjalan ke mana, Tuhan memberiku cukup terang untuk satu hari.
Tidak untuk sepuluh tahun.
Tidak untuk tahun depan.
Kadang bahkan tidak untuk besok.
Just enough for today.
Dan hari demi hari itu ternyata membawaku sampai ke sini.
Aku masih bangun pagi.
Aku masih berdoa.
Aku masih mencintai.
Aku masih menjadi Mama.
Aku masih bekerja.
Aku masih tertawa sesekali.
Aku masih menangis sesekali.
Aku masih mempunyai pertanyaan.
Tetapi aku masih datang kepada Tuhan.
I'm still here.
And perhaps, someday when I look back, I will realize something even more beautiful:
I wasn't only still here.
God was here too.
Every single day. 🤍

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)







