Jumat, 07 Agustus 2026

Still Here — And God Was Here Too


Beberapa minggu terakhir membuatku menyadari bahwa hidup dapat berubah begitu cepat.

Ada hari ketika aku merasa cukup kuat.
Ada hari ketika satu hal kecil saja dapat menghabiskan hampir seluruh energiku.

Ada pagi ketika aku bangun, berolahraga, mengantar anakku sekolah, berjalan menuju kantor dan menjalani hari seperti biasa.

Ada juga hari ketika pikiranku begitu penuh sehingga melakukan pekerjaan sederhana saja terasa berat.

Aku sering ingin mengetahui jawabannya sekarang.

Apa yang sebenarnya sedang Tuhan kerjakan?

Ke mana semua ini akan membawa hidupku?

Apa yang harus kulakukan?

Apa yang harus kupertahankan?

Apa yang harus kulepaskan?

Tetapi mungkin Tuhan belum sedang memberikan kepadaku seluruh jawabannya.

Mungkin untuk sekarang, Tuhan hanya sedang mengajariku berjalan satu hari demi satu hari.

Dan ketika aku melihat kembali saat teduhku beberapa hari terakhir, aku baru menyadari sesuatu.

Tanggal 26 Juli aku membaca tentang Living Water of Christ.

Ketika hati mencari sesuatu untuk mengisi kekosongan, aku diingatkan lagi bahwa ada kehausan dalam jiwa yang tidak dapat dipuaskan oleh manusia.

Lalu datang Words That Honor God.

Quick to listen, slow to speak and slow to become angry.

Seolah Tuhan mengingatkanku bahwa bahkan ketika hati sedang penuh, aku masih dapat memilih bagaimana aku berbicara.

Kemudian tanggal 28 Juli: Recovering from Betrayal.

Aku tidak ingin menuliskan banyak hal tentang hari itu.

Perhaps someday, when I read this again, I will remember.

And that will be enough.

Tetapi setelah itu renungan-renunganku terus berjalan.

The Company We Keep.

New Life for Dead Hearts.

The Battle Is God's.

Dan kalimat itu tinggal cukup lama dalam pikiranku:

The battle is not yours, but God's.

Mungkin karena selama ini aku terlalu sibuk mencoba memenangkan semua pertempuran.

Mencari jawaban.

Memperbaiki keadaan.

Menjaga semuanya supaya tidak berantakan.

Padahal ada pertempuran yang memang bukan milikku untuk dimenangkan.

Lalu Agustus datang.

God's Better Country.

Aku tersenyum ketika mengingatnya sekarang.

Karena ternyata tidak ada kehidupan di dunia ini yang benar-benar sempurna.

Tidak ada manusia yang dapat menjadi rumah yang tidak pernah mengecewakan.

Mungkin itulah mengapa hati manusia selalu mempunyai kerinduan akan sesuatu yang lebih baik.

Kemudian:

Walking in Integrity.

Whoever walks in integrity walks securely.

Aku tidak dapat mengendalikan pilihan semua orang.

Aku tidak dapat menentukan bagaimana orang lain menjalani hidupnya.

Tetapi aku masih mempunyai satu tanggung jawab:

bagaimana aku sendiri memilih berjalan di hadapan Tuhan.

Dan tanggal 3 Agustus:

Waiting for God.

Wait for the Lord; be strong and take heart and wait for the Lord.

Mungkin aku memang tidak harus mengetahui semuanya sekarang.

Mungkin tidak mengambil keputusan ketika hati sedang paling lelah bukanlah kelemahan.

Sometimes waiting is also an act of faith.

Lalu Tuhan berbicara tentang The Help God Provides.

Tentang pertolongan-Nya yang kadang hadir melalui cara-cara yang bahkan tidak kita sadari.

Kemudian Family in God.

Dan aku kembali mengingat bahwa sebelum semua identitas lain yang kumiliki, aku adalah anak Tuhan.

Begitu juga anak yang Tuhan percayakan kepadaku.

Ada begitu banyak hal tentang masa depannya yang tidak bisa kukendalikan.

Tetapi aku dapat terus membawanya kepada Tuhan.

Aku dapat memeluknya.

Mengatakan bahwa aku mencintainya.

Berdoa bersamanya.

Mengantarnya sekolah.

Mendengarkan ceritanya.

Membiarkannya bermain dan tertawa.

Dan sebisa mungkin menjaga agar pergumulan orang-orang dewasa tidak mengambil sukacita masa kecilnya.

Lalu kemarin, 6 Agustus:

Part of God's Story.

Ada satu pertanyaan sederhana:

“Has not the Lord gone ahead of you?”

Entah mengapa kalimat itu terasa berbeda ketika hidup sedang penuh ketidakpastian.

Karena aku sedang berdiri di halaman cerita yang belum selesai.

Aku tidak tahu apa yang tertulis di halaman berikutnya.

Tetapi kalau Tuhan memang sudah berjalan di depanku, mungkin aku tidak harus melihat seluruh jalan untuk berani mengambil satu langkah berikutnya.

Dan hari ini, 7 Agustus:

God Is Greater.

Aku tidak ingin mengartikan rangkaian renungan ini seolah-olah Tuhan sedang memberikan kepadaku sebuah ramalan tentang bagaimana semuanya akan berakhir.

Aku tidak tahu.

Dan mungkin memang bukan itu maksudnya.

Tetapi aku tahu bahwa setiap pagi, ketika pikiranku dapat pergi ke begitu banyak tempat, Firman Tuhan seperti menarikku kembali.

Come back.

Kembali kepada Tuhan.

Kembali kepada kebenaran.

Kembali kepada integritas.

Kembali kepada kasih.

Kembali kepada hari ini.

Karena mungkin iman bukanlah kemampuan untuk mengetahui bahwa semua yang kita inginkan pasti akan terjadi.

Iman adalah percaya bahwa apa pun yang terjadi, Tuhan tetap Tuhan.

Dan mungkin suatu hari nanti aku akan membaca tulisan ini dari tempat yang sama sekali berbeda.

Saat itu aku mungkin sudah mengetahui jawaban dari banyak pertanyaan yang hari ini masih membuatku menangis.

Aku mungkin akhirnya memahami mengapa Tuhan mengizinkan beberapa jalan menjadi begitu sulit.

Atau mungkin beberapa pertanyaan tetap tidak pernah mendapatkan jawaban.

But I hope I will remember this:

Pada hari-hari ketika aku merasa tidak tahu harus berjalan ke mana, Tuhan memberiku cukup terang untuk satu hari.

Tidak untuk sepuluh tahun.

Tidak untuk tahun depan.

Kadang bahkan tidak untuk besok.

Just enough for today.

Dan hari demi hari itu ternyata membawaku sampai ke sini.

Aku masih bangun pagi.

Aku masih berdoa.

Aku masih mencintai.

Aku masih menjadi Mama.

Aku masih bekerja.

Aku masih tertawa sesekali.

Aku masih menangis sesekali.

Aku masih mempunyai pertanyaan.

Tetapi aku masih datang kepada Tuhan.

I'm still here.

And perhaps, someday when I look back, I will realize something even more beautiful:

I wasn't only still here.

God was here too.

Every single day. 🤍

Still Held While I Wait

      


Akhir-akhir ini hidup terasa lebih berat dari biasanya.

Ada banyak hal yang masih berusaha kupahami. Ada pertanyaan yang belum menemukan jawabannya. Ada doa-doa yang terus kubawa kepada Tuhan, tanpa tahu bagaimana akhirnya nanti.

Kadang aku bisa begitu yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Tapi di hari lain, rasanya aku hanya berusaha melewati satu hari demi satu hari.

3 Agustus 2026 adalah salah satu hari itu.

Pagi itu, dalam perjalanan menuju kantor, aku mengalami kecelakaan. Ojek yang kutumpangi berusaha menghindari bus TransJakarta dan akhirnya bersenggolan dengan motor lain.

Semuanya terjadi begitu cepat.

Dan ketika akhirnya aku menyadari apa yang baru saja terjadi, hanya satu hal yang benar-benar kupahami:

Aku baik-baik saja.

Tidak terluka. Tidak ada sesuatu yang serius terjadi.

Aku selamat.

Di tengah kondisi hati yang sebenarnya sedang membawa begitu banyak beban, kejadian itu membuatku terdiam.

Belakangan ini pikiranku begitu penuh dengan hal-hal yang tidak bisa kukendalikan. Tentang sesuatu yang begitu ingin kupertahankan. Tentang masa depan yang belum bisa kulihat. Tentang doa-doa yang belum kutahu jawabannya.

Tetapi pagi itu, di tengah semua ketidakpastian tersebut, Tuhan mengizinkanku melihat satu hal dengan sangat jelas:

Aku masih dalam penjagaan-Nya.

Kecelakaan itu tidak membuat pergumulanku tiba-tiba selesai.

Aku tetap pulang membawa pertanyaan yang sama.

Doaku masih sama.

Ketidakpastianku masih ada.

Tetapi aku masih di sini.

Masih bernapas.
Masih diberi kesempatan menjalani hari.
Masih dijaga.

Dan entah bagaimana, renungan yang kubaca pada 3 Agustus itu berbicara tepat tentang sesuatu yang sedang sulit kulakukan:

Waiting for God.

“Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!”
Mazmur 27:14

Renungan itu mengingatkanku pada Daud.

Di bagian akhir Mazmur 27, doanya dipenuhi kegelisahan. Tetapi sebelum berbicara tentang ketakutannya, Daud terlebih dahulu mengingat siapa Tuhan baginya:

Terangnya.
Keselamatannya.
Benteng hidupnya.

Keadaannya belum tentu berubah.

Tetapi Tuhannya tidak berubah.

Dan rasanya, itulah yang perlu kudengar saat ini.

Menantikan Tuhan bukan berarti aku tidak boleh takut.

Percaya kepada Tuhan juga bukan berarti aku sudah tahu bagaimana semua ini akan berakhir.

Mungkin iman dalam masa seperti ini justru sesederhana terus mengingat siapa Tuhan, ketika aku belum mengerti apa yang sedang Dia kerjakan.

Renungan hari itu mengatakan bahwa ketika Tuhan seolah menunda menjawab doa kita, kita tetap dapat menaruh kepercayaan kepada sifat-Nya yang tidak berubah.

Dan aku merasa:

Itulah aku sekarang.

Sedang menunggu.

Menunggu jawaban.
Menunggu kejelasan.
Menunggu Tuhan menunjukkan jalan selanjutnya.

Mungkin 3 Agustus bukan hari ketika Tuhan menjawab semua pertanyaanku.

Tetapi hari itu, di tengah salah satu masa terberat dalam hidupku, aku mengalami kecelakaan—

dan Tuhan membawaku melewatinya dengan selamat.

Seolah ada pengingat kecil di tengah penantianku:

Aku belum memberikan semua jawaban yang kamu tunggu. Tetapi Aku masih di sini.

Suatu hari nanti, ketika aku kembali membaca tulisan ini, mungkin keadaan sudah sangat berbeda.

Mungkin saat itu aku sudah tahu jawaban dari doa-doa yang hari ini masih membuatku menangis.

Dan ketika hari itu datang, aku ingin mengingat 3 Agustus bukan hanya sebagai hari ketika aku mengalami kecelakaan.

Aku ingin mengingatnya sebagai salah satu hari ketika, di tengah ketidakpastian, Tuhan kembali mengingatkanku akan kebaikan dan penjagaan-Nya.

Aku belum tahu bagaimana cerita ini akan berakhir.

Tetapi untuk hari ini, aku tahu kepada siapa aku menaruh pengharapanku.

Tuhan adalah terangku.
Tuhan adalah keselamatanku.
Tuhan adalah benteng hidupku.

Dan untuk segala sesuatu yang belum kutahu jawabannya,

aku akan menantikan Tuhan.

“Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!”
Mazmur 27:14 ❤️

The Grounds Have Never Been the Whole Cup



There are days when I look at myself and notice only the things I wish were different.

The words I should not have said.
The emotions I could not control.
The decisions I wish I could undo.
The fears that still follow me.
The parts of myself that remain unfinished.

They settle quietly in my mind, much like coffee grounds at the bottom of a cup.

Sometimes they are barely noticeable. At other times, they seem to be the only things I can see. And when I stare at them for too long, I begin to believe that they are all there is.

But they are not.

The grounds have never been the whole cup.

They are only one part of it—small, heavy pieces that eventually find their way to the bottom. They may affect how the last sip tastes, but they do not erase everything else that has filled the cup.

Still, we often treat our flaws as if they are the most truthful things about us.

One mistake becomes evidence that we are failures.
One emotional moment convinces us that we are weak.
One painful chapter makes us question the goodness of our entire story.

We allow the things that settled at the bottom to speak louder than everything that has been poured into us along the way.

But a person is never made only of mistakes.

We are also made of every moment we chose to be honest when dishonesty would have been easier. Every time we remained loyal even when no one was watching. Every act of kindness that may have gone unnoticed. Every difficult morning when we still got up, carried our responsibilities, and tried again.

We are made of compassion.
Of resilience.
Of quiet strength.
Of lessons learned slowly.
Of prayers whispered when we no longer knew what else to say.
Of a heart that has been hurt but still refuses to stop growing.

These things are part of us, too.

Perhaps that is what we forget when we become our own harshest critics. We examine our imperfections closely, yet barely acknowledge the courage it has taken to become who we are today.

We remember the times we fell apart, but not all the times we gathered the pieces and continued.

We remember the words we regret, but not the many words that brought comfort to someone else.

We remember the moments when fear controlled us, but not the moments when we kept moving despite being afraid.

We remember the grounds.

We forget the coffee.

Learning to be gentle with ourselves does not mean pretending that our weaknesses do not exist. It does not mean refusing to take responsibility for the ways we have hurt ourselves or others. It simply means seeing ourselves honestly—and honesty must include the good as well as the broken.

We can acknowledge what needs to change without believing that it is all we are.

We can regret our mistakes without allowing them to become our identity.

We can still be learning and remain worthy of love.

We can be imperfect and still possess a good heart.

Perhaps some of our flaws will always remain visible. Perhaps there will always be parts of ourselves that we are still trying to understand, heal, or improve. But growth was never meant to require hatred toward the person we are becoming.

Growth needs truth, but it also needs grace.

So when your eyes are drawn to the grounds at the bottom of your cup, pause for a moment. Look again.

Notice everything else that fills it.

Your honesty.
Your loyalty.
Your kindness.
Your compassion.
Your resilience.
Your quiet strength.
Your willingness to learn.
Your courage to begin again.
Your heart that keeps choosing to grow.

The grounds may be there, but they have never been the whole cup.

They simply settle at the bottom.

What fills the cup has always mattered more than what settles at the bottom.

Be gentle with yourself.

Your story has never been defined only by the things you wish you could change. It is also being written by the goodness you continue to carry, the lessons you are willing to learn, and the love you still choose to pour into the world.

And perhaps that is the most important truth to remember:

You are not merely the grounds that settled.
You are everything that continues to fill the cup.
☕🤎

Hujan Bulan Juni


Juni adalah musim kemarau. Langit bulan Juni tidak seperti langit pada musim penghujan yang bisa memberikan air sebanyak yang dibutuhkan bumi. Jika hujan datang, mungkin ia hanya sebentar. Hanya rintik yang jatuh di antara hari-hari yang tetap kering.

Tidak cukup untuk mengakhiri kemarau.

Tidak cukup untuk membuat tanah benar-benar basah.

Mungkin bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pohon berbunga yang menunggunya.

Tetapi hujan itu tetap turun.

Sedikit airnya tetap mencari jalan ke tanah.

Sebagian mungkin menguap. Sebagian tertinggal di daun. Sebagian hilang tanpa pernah kita tahu ke mana.

Tetapi mungkin ada beberapa tetes yang akhirnya sampai ke akar.

Tidak cukup untuk membuat kemarau pergi.

Tetapi cukup untuk membantu sebuah kehidupan bertahan satu hari lagi.

Dan tiba-tiba aku mengerti mengapa hujan bulan Juni harus menjadi hujan yang TABAH.

Karena mungkin ada jenis ketabahan yang paling melelahkan:

ketika kita sudah memberikan LEBIH DARI yang kita punya, tetapi apa yang kita berikan tetap tidak pernah terasa cukup.

Ketika kita sudah mencoba mencintai dengan cara terbaik yang kita tahu. Tetapi pada akhirnya kita tetap berhadapan dengan kenyataan bahwa seluruh usaha itu tidak mampu membuat musim berubah.

Barangkali itulah yang paling menyakitkan. Bukan karena kita tidak berusaha. Justru karena kita tahu betapa kerasnya kita sudah berusaha.

Hujan bulan Juni tidak gagal menjadi hujan hanya karena ia tidak mampu mengakhiri kemarau. Ia tetap hujan. Setiap tetesnya tetap air. Setiap rintiknya tetap membawa kehidupan.

Dan sesuatu tidak menjadi tidak berharga hanya karena ia tidak mampu menyelamatkan semuanya.

Aku membutuhkan waktu untuk mengerti itu.

Bahwa mungkin tugasku memang tidak pernah untuk mengendalikan musim.

Aku bisa memberikan air. Tetapi aku tidak bisa memerintahkan pohon untuk berbunga.

Aku bisa menjaga. Tetapi aku tidak bisa menentukan pilihan orang lain.

Aku bisa mengasihi. Tetapi kasihku tidak mempunyai kuasa untuk mengubah seseorang yang tidak memilih berubah.

Aku bisa berdoa. Tetapi aku tidak bisa menulis sendiri bagaimana Tuhan harus menjawabnya.

Dan mungkin menerima keterbatasan itu bukan berarti aku gagal. Mungkin itu justru bagian tersulit dari menjadi TABAH.

Mengetahui bahwa apa yang kita berikan mungkin tidak pernah dianggap cukup, tetapi tidak membiarkan penilaian itu membuat kita percaya bahwa seluruh pemberian kita tidak berarti.

Sebab mungkin ada sesuatu yang sudah sampai ke akar.

Ada kehidupan yang pernah terjaga.

Ada kebaikan yang pernah tumbuh.

Ada seseorang yang pernah merasakan kasih.

Ada doa yang pernah dinaikkan dengan sungguh-sungguh.

Ada rumah yang pernah dibangun dengan harapan yang tulus.

Tidak semuanya sia-sia hanya karena akhirnya tidak menjadi seperti yang kita bayangkan.

Maka kalau hari ini aku berdoa untuk menjadi sekuat hujan bulan Juni, aku tidak sedang meminta Tuhan membuatku kuat supaya aku bisa terus menderita.

Aku juga tidak sedang meminta kemampuan untuk terus memberi sampai tidak ada lagi yang tersisa dari diriku.

Aku hanya ingin mempunyai ketabahan untuk menerima bahwa aku tidak bisa menjadi musim penghujan bagi semua orang.

Bahwa aku tidak harus menyelamatkan semuanya.

Bahwa aku tidak harus membuktikan nilai diriku dengan memberikan lebih banyak dan lebih banyak lagi hanya supaya akhirnya dianggap cukup.

Tuhan,

kalau selama ini aku sudah menjadi rintik-rintik kecil di tengah sebuah kemarau, tolong ajari aku percaya bahwa Engkau melihat setiap tetesnya.

Kalau ada yang sampai ke akar, biarlah ia menjadi kehidupan.

Kalau ada yang menguap tanpa pernah terlihat hasilnya, ajari aku untuk merelakannya.

Kalau ada yang tetap mengatakan bahwa hujanku tidak cukup, ingatkan aku bahwa tugasku bukan menjadi seluruh langit.

Dan kalau musim memang harus berganti, ajari aku untuk tidak merasa bersalah karena aku tidak berhasil menghentikan kemarau seorang diri.

Juni telah berlalu.

Bulan yang begitu berarti bagiku itu tahun ini sekali lagi membawa hujan.

Dulu mungkin aku akan menganggapnya sebagai sebuah kebetulan kecil yang menyenangkan.

Sekarang aku ingin menyimpannya sebagai pengingat.

Bahwa hujan bukan hanya hujan yang turun dengan deras dan semua orang langsung melihat manfaatnya.

Tetapi ada pula hujan bulan Juni. Sedikit. Diam-diam. Tidak mampu mengubah seluruh musim. Mungkin tidak pernah dianggap cukup. Namun tetap memberikan apa yang dimilikinya kepada kehidupan.

Dan kalau suatu hari aku kembali merasa bahwa semua yang sudah kulakukan tidak cukup, aku ingin mengingat hujan itu.

Tidak semua yang tidak cukup untuk menyelamatkan semuanya berarti tidak berarti apa-apa.

Kadang beberapa tetes saja sudah sampai ke akar. Dan mungkin untuk hari itu, itu sudah cukup.

Tuhan, mampukan aku untuk sekuat hujan bulan Juni.

 

Lemuel, Ketika Hikmat Itu Kembali Kepadaku



 


Saat ini
hati Mama sedang penuh.

Ada kecewa. Ada marah. Ada sesuatu yang rasanya sulit begitu saja dilepaskan. Lemuel tahu Mama sedang marah.

Mama pikir mungkin seorang anak hanya akan melihat persoalan secara sederhana: siapa yang salah dan siapa yang benar.

Ternyata Lemuel melihat sesuatu yang lain.

Dengan caranya yang sederhana, Lemuel mengajak Mama untuk mengampuni.

Serahkan kepada Tuhan. Biarlah Tuhan yang mengurus apa yang tidak bisa kita selesaikan sendiri.

Yang paling membekas bagi Mama adalah bahwa Lemuel tidak membuat Mama merasa bahwa kemarahan itu tidak boleh ada. Lemuel mengerti mengapa Mama marah.

Tetapi pada saat yang sama, ia juga tidak ingin kemarahan itu tinggal selamanya. Dengan polosnya, ia hanya berharap nanti, kalau semuanya sudah tidak marah lagi, kami bisa kembali baik-baik saja.

Mama terdiam.

Karena anak yang selama ini Mama pikir sedang Mama ajari tentang pengampunan, hari itu justru mengingatkan Mama bagaimana caranya mengampuni.

Anak yang Mama doakan supaya memiliki hati yang lembut, hari itu sedang menjaga hati Mama supaya tidak menjadi keras.

Dan anak yang Mama ajarkan untuk menyerahkan hidupnya kepada Tuhan, hari itu berkata dengan caranya sendiri:

“Serahkan saja kepada Tuhan.”

Anakku...

Tentang Lemuel, Alkitab tidak banyak menceritakan kejayaannya sebagai seorang raja. Kita bahkan tidak diberi banyak catatan tentang pencapaiannya.

Namun ada sesuatu yang justru dipilih untuk diabadikan:

hikmat yang ditanamkan mamanya kepadanya.

Seorang mama yang mempersiapkan anaknya untuk menghadapi hidup.

Menjaga kemurnian.
Menguasai diri.
Tidak menyalahgunakan kekuatan.
Membela mereka yang lemah.
Memimpin dengan keadilan.
Dan menghargai perempuan yang takut akan Tuhan.

Mama menyadari bahwa ada begitu banyak bagian dari hidupmu yang tidak bisa Mama kendalikan.

Mama takut.

Bagaimana seorang anak dapat bertumbuh menjadi pemimpin yang baik ketika tidak semua hal yang ia lihat adalah teladan yang baik?

Mama ingin melindungimu dari banyak hal. Mama ingin memastikan bahwa apa yang kamu lihat, dengar, dan alami tidak meninggalkan luka yang suatu hari membentukmu menjadi seseorang yang berbeda dari laki-laki yang selama ini Mama doakan.

Mama takut.

Takut sekali...

Kadang Mama bahkan bertanya,

cukupkah yang Mama tanamkan?

Tetapi perlahan Tuhan mengingatkan Mama akan sesuatu:

Mama bukan satu-satunya yang sedang membentuk hidupmu.

Ada Tuhan.

Dan Tuhan jauh lebih mampu menjaga hatimu daripada kemampuan Mama untuk mengendalikan seluruh keadaan di sekelilingmu.

Mama kemudian melihat nasihat mama Raja Lemuel dengan cara yang berbeda.

Ia tidak mempersiapkan anaknya untuk sebuah dunia yang sempurna.

Ia mempersiapkan anaknya untuk dunia yang nyata.

Dunia di mana seorang raja akan bertemu dengan kuasa dan godaan. Dunia di mana ada ketidakadilan. Dunia di mana ia harus belajar mengendalikan dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain.

Karena itu, ia membekalinya dengan hikmat.

Dan mungkin itulah bagian Mama juga.

Bukan memastikan bahwa hidupmu hanya memperlihatkan hal-hal yang baik—karena Mama tidak akan pernah sanggup melakukannya.

Tetapi terus menanamkan kebenaran, supaya ketika suatu hari kamu berhadapan dengan sesuatu yang tidak baik,

kamu tahu bahwa kamu tetap dapat memilih yang baik.

Mama tidak dapat menentukan setiap contoh yang akan kamu lihat.

Tetapi Mama dapat berdoa agar Tuhan memberimu hikmat untuk membedakan mana yang patut kamu teladani dan mana yang harus berhenti di generasimu.

Dan sisanya, Mama serahkan kepada Tuhan.

Perjalananmu masih sangat panjang. Masih akan ada banyak hal yang harus kamu pelajari.

Dan ternyata, masih banyak juga yang harus Mama pelajari.

Tetapi hari itu rasanya Tuhan mengizinkan Mama mengintip sedikit pekerjaan-Nya.

Ada belas kasih yang sedang bertumbuh.

Ada kemampuan untuk melihat kesalahan tanpa harus membenci orang yang melakukan kesalahan.

Ada kerinduan akan damai.

Dan ada iman sederhana yang percaya bahwa ketika tangan kita tidak sanggup menyelesaikan semuanya,

tangan Tuhan tetap sanggup.

Untuk Lemuel, suatu hari nanti

Lemuel,

kalau suatu hari nanti kamu sudah dewasa dan membaca tulisan ini, mungkin kamu sama sekali tidak mengingat percakapan kecil itu.

Tidak apa-apa.

Mama ingin mengingatnya untukmu.

Mama tidak tahu akan menjadi apa kamu nanti.

Mama tidak tahu seberapa jauh Tuhan akan membawamu, pencapaian apa yang akan kamu miliki, atau bentuk kepemimpinan seperti apa yang suatu hari Tuhan percayakan kepadamu.

Tetapi Mama berharap satu hal ini tidak pernah berubah:

Jadilah kuat tanpa menjadi keras.

Pegang kebenaran tanpa kehilangan kasih.

Ampuni tanpa menyebut yang salah sebagai benar.

Belalah mereka yang membutuhkan.

Dan ketika ada perkara yang terlalu berat untuk kamu bawa sendiri, ketahuilah kapan harus menyerahkannya kepada Tuhan.

Delapan tahun lalu, Mama berdoa agar kamu bertumbuh menjadi laki-laki yang mengasihi Yesus dan berjalan dalam hikmat-Nya.

Hari itu, untuk sesaat, Mama melihat doa itu mulai bertumbuh di depan mata Mama.

Mama tidak bisa mengendalikan semua yang akan membentukmu.

Tetapi Mama percaya Tuhan lebih besar daripada semuanya.

Eight years ago, Mama prayed.

Today, Mama sees a little fruit.

And just like before,

Mama will keep trusting God with the rest. ❤️

   




Her, the kids, and Jesus

A playlist, a prayer, and a picture of love growing into a home.

Dan + Shay recently released Her, The Kids, and Jesus, and I immediately fell in love with it.

The song made me revisit many of their older songs, and I realized why I have always loved their music so much. When listened to together, their songs seem to tell one beautiful, continuous story.

It begins with Nothin’ Like You—the moment you meet someone who feels different from everyone else. Then comes 10,000 Hours, the desire to keep knowing that person for a lifetime; Glad You Exist, the gratitude of having found each other; and We Should Get Married, when love becomes a decision.

The story continues through For the Both of Us, with a man asking for a father’s blessing; Speechless, as he watches the woman he loves walk toward him; and From the Ground Up, when a wedding becomes the beginning of a marriage that is built slowly, faithfully, and intentionally.

But perhaps what I love most is that their songs do not stop at the wedding.

There is You, about continuing to choose the same person; Marry You Again, about looking back and knowing that, given the chance, you would still make the same choice; and Say So, which reminds me that love should also create a safe place for people to speak honestly.

Because a good marriage is not only made of romantic moments.

It is also built through ordinary conversations, shared responsibilities, laughter at the dinner table, long journeys home, misunderstandings that are patiently resolved, and the willingness to continue learning about one another.

Love grows when two people can speak and listen without making each other afraid. It grows when both are willing to say, “This is what I feel,” “This is what I need,” or even, “I was wrong.”

Then love grows beyond the two people who first fell in love.

 


When I Pray for You brings us into parenthood—the hopes and prayers that begin even before a child understands how deeply they are loved. Keeping Score reminds us to cherish the little moments, while Bigger Houses reminds us that happiness is not necessarily found in having more, but in appreciating the people already gathered inside our home.

And finally, there is Her, The Kids, and Jesus.

For me, it feels like the destination toward which all those earlier songs were quietly leading: a life where love has grown into commitment, commitment has grown into a family, and the family continues to find its direction in God.

Maybe that is the kind of romance I love now.

Not only flowers, beautiful words, or grand gestures, although those things can still be wonderful. I love the idea of a man who is faithful in the ordinary days, who comes home not only physically but also emotionally, and who continues choosing his family even when life becomes busy.

A man who can communicate honestly, listen with humility, apologize sincerely, and protect the trust placed in him.

A man who understands that being a husband is not simply a title received on a wedding day. It is a promise lived out through countless small decisions.

And as a mother, these songs eventually become a prayer for Lemuel too.

Someday, if God leads him toward marriage, I hope he will not only know how to make someone fall in love with him. I hope he will also have the character required to care for that love.

I pray that he becomes a man who is gentle without being weak, firm without being harsh, and honest even when honesty requires courage.

May he know how to communicate instead of withdrawing, how to listen instead of immediately defending himself, and how to admit his mistakes without feeling that doing so diminishes him.

May his future wife feel loved not only through his words but also through his consistency. May his children know him not merely as the father who lives in their house, but as someone who is genuinely present in their lives.

Most importantly, may Jesus be more than a name mentioned in family prayers. May Christ shape the way he loves, leads, forgives, makes decisions, and returns to what truly matters.

Perhaps that is why these songs mean so much to me.

Together, they describe more than falling in love. They describe choosing, building, communicating, growing, praying, and creating a place where everyone inside it feels safe and loved.

Someday, I would like to read this again and remember the kind of love I have always prayed would fill our home:

A love that keeps choosing.

A love that keeps growing.

A love that becomes a marriage, a family, and a prayer.

Her, the kids, and Jesus.

Perhaps, in the end, those are the things that matter most.



Jumat, 12 Januari 2024

Konsep Seorang Hamba

Hari ini spesial, sebenernya setiap hari spesial, sebenernya setiap hari penyertaan Tuhan Yesus selalu nyata, namun hari ini berarti karena sudah lama rasanya sangat perlu sekali  aku tergerak untuk menuliskan kebenaran ini. Kebenaran bahwa Tuhan Yesus hidup yang kehadirannya selalu nyata boleh aku rasakan setiap harinya.



Pada dasarnya aku hanya manusia biasa, kadang sesekali rasa iri mengerogoti hati. Sering sekali tergoda untuk membandingkan berkat orang lain dibandingkan berkatku. Sering sekali bertanya kenapa Tuhan? Kenapa hati mereka seperti itu? Kenapa hatiku begini? Tapi firman Tuhan mengingatkan melalui renungan hari ini "BUKAN URUSANMU WINDA" 

Kemudian tentang berkat, teringat khotbah yang entah mengapa baru aku ketahui belakangan, setelah 31 tahun hidup baru mengerti dan memahami konsep seorang hamba. Pada dasarnya kita manusia ini adalah "HAMBA=BUDAK". Kebenaran ini aku dapati ketika ibadah tanggal 22 September 2023 di GKI Cinere dengan Tema Ibadah: "TUHAN yang ADIL dan PENUH KEMURAHAN ”.  Bacaan: Yunus 3:10-4:11, Mazmur 145:1-8; Filipi 1:21-30, Matius 20:1-16. Dilayani oleh: Pdt. Em. Samuel Santoso.


Beberapa kali ketika iman sedang lemah, aku suka kembali mendengarkan rekaman tersebut. Thanks to corona ya, jadi ada ibadaha online, jadi ada rekamannya juga.. hahahha.. Rekaman khotbah dapat di akses pada https://www.youtube.com/watch?v=kQglqPRWf8s&t=175s


KHOTBAH:

Saat ini orang berpikir bahwa hamba adalah Abdi sudah mengalami geofemisme yang dihaluskan. HAMBA sebenernya adalah BUDAK, karena di tulis pada masa perbudakan. Jadi kalau orang sudah jadi seorang budak TIDAK ADA HAK, YANG ADA CUMAN KEWAJIBAN. Tentu pada zaman sekarang tidak adil bagi orang yang bekerja 12 jam dibayar sama dengan orang yang bekerja hanya 1 jam. Tuan itu penguasa mutlak. Rupanya perumpamaan tentang hamba ini merupkan jawaban dari perikop sebelumnya, Matius pasal 19:27, dimana Petrus bertanya kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut engkau jadi apakah yang akan kami peroleh?

Yang paling penting bukan soal upah, bukan sosok pekerja yang ingin ditampilkan namun tentang sosok Tuhan yang baik, Tuhan yang mencari bukan menunggu.  Dia punya kedaulatan dia punya hak, terserah Tuhan.  

Gaji itu pengertiannya kamu kerja, aku bayar. Bagi orang percaya, sebagai hamba Allah, kita tidak mendapatkan gaji, tetapi jaminan kebutuhan hidup. Tuhan memberikan jaminan hidup lebih dari cukup

Jaminan kebutuhan hidup Juragan kepada para pekerja mulai dari yang kerja jam 6 pagi sampai jam 5 sore bukan upah tapi Mau mengatakan kepada mereka bahwa dengan bekerja di kebunku kalian aku jamin kehidupannya. Kebutuhan hidup lalu bukan cuman uang tapi ada aktualisasi diri, penerimaan oleh banyak orang, ketika kita dihargai dan dihormati, dll.

Dari hal tersebut, kita sebagai orang Kristen dalam mengisi kemerdekaan atau mengembangkan masyarakat supaya masyarakat Indonesia menjadi lebih baik adalah JADILAH TELADAN untuk menjalani HIDUP BERTUHAN SECARA LEBIH TULUS. Menjalani hidup bertuhan bukan cuman beragama tapi hidup bertuhan menjadi apa secara lebih tulus tulus. Model kehidupan yang berkembang pesat sekali itu sifatnya sangat egosentris, menuju kepentingan diri sendiri, beriman kepada Tuhan itu dengan pamrihnya luar biasa. Rajin berdoa supaya dapat berkat / pahala.

Banyak dari kita kelihatannya beribadah namun menggunakan strategi kodok, menjilat ke atas lidahnya, kakinya menginjak orang di bawah lalu, sikut kiri dan sikut kanan. Belum lagi teori Kita adalah kepala dan bukan ekor, jadi maunya naik terus dan bukan turun. Kalau detak jantung naik terus kan mati.

Tuhan sudah memberikan jaminan untuk kehidupan yang lebih dari layak kepadamu, hidup bukan hanya tentang materi tapi juga non-material. Hiduplah lebih tulus dan jangan pamrih kepada Tuhan. Karena sesungguhnya Tuhan itu nggak butuh pelayanan.

Berserahlah kepada Tuhan dengan apa yang kamu punya dengan apa yang kamu mampu dengan apa yang kamu bisa dengan keterbatasan kamu dengan kelemahan kamu dengan kekurangan kamu. Mari kita melayani dunia ini dengan kasih Tuhan dengan tulus, kita semua hanya budak Tuhan. Kita tidak punya apa-apa dan Tuhan tidak butuh apapun dari kita. Kita hanya budak yang beruntung punya tuhan yang murah hati, jangan pamrih, jangan minta apa-apa lagi sama Tuhan. Kalau ada yang harus diminta itu minta ampun untuk dosa, dan minta ampun karena kurang ajar. 

 

slide show

wibiya widget