Juni adalah musim kemarau. Langit bulan Juni
tidak seperti langit pada musim penghujan yang bisa memberikan air sebanyak
yang dibutuhkan bumi. Jika hujan datang, mungkin ia hanya sebentar. Hanya
rintik yang jatuh di antara hari-hari yang tetap kering.
Tidak cukup untuk
mengakhiri kemarau.
Tidak cukup untuk
membuat tanah benar-benar basah.
Mungkin bahkan
tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pohon berbunga yang menunggunya.
Tetapi hujan itu
tetap turun.
Sedikit airnya
tetap mencari jalan ke tanah.
Sebagian mungkin
menguap. Sebagian tertinggal di daun. Sebagian hilang tanpa pernah kita tahu ke
mana.
Tetapi mungkin
ada beberapa tetes yang akhirnya sampai ke akar.
Tidak cukup untuk
membuat kemarau pergi.
Tetapi cukup
untuk membantu sebuah kehidupan bertahan satu hari lagi.
Dan tiba-tiba aku
mengerti mengapa hujan bulan Juni harus menjadi hujan yang TABAH.
Karena mungkin
ada jenis ketabahan yang paling melelahkan:
ketika kita
sudah memberikan LEBIH DARI yang kita punya, tetapi apa yang kita berikan tetap
tidak pernah terasa cukup.
Ketika kita sudah
mencoba mencintai dengan cara terbaik yang kita tahu. Tetapi pada akhirnya kita
tetap berhadapan dengan kenyataan bahwa seluruh usaha itu tidak mampu membuat
musim berubah.
Barangkali itulah
yang paling menyakitkan. Bukan karena kita tidak berusaha. Justru karena kita
tahu betapa kerasnya kita sudah berusaha.
Hujan bulan Juni
tidak gagal menjadi hujan hanya karena ia tidak mampu mengakhiri kemarau. Ia
tetap hujan. Setiap tetesnya tetap air. Setiap rintiknya tetap membawa
kehidupan.
Dan sesuatu tidak
menjadi tidak berharga hanya karena ia tidak mampu menyelamatkan semuanya.
Aku membutuhkan
waktu untuk mengerti itu.
Bahwa mungkin
tugasku memang tidak pernah untuk mengendalikan musim.
Aku bisa
memberikan air. Tetapi aku tidak bisa memerintahkan pohon untuk berbunga.
Aku bisa menjaga.
Tetapi aku tidak bisa menentukan pilihan orang lain.
Aku bisa
mengasihi. Tetapi kasihku tidak mempunyai kuasa untuk mengubah seseorang yang
tidak memilih berubah.
Aku bisa berdoa. Tetapi
aku tidak bisa menulis sendiri bagaimana Tuhan harus menjawabnya.
Dan mungkin
menerima keterbatasan itu bukan berarti aku gagal. Mungkin itu justru bagian
tersulit dari menjadi TABAH.
Mengetahui bahwa
apa yang kita berikan mungkin tidak pernah dianggap cukup, tetapi tidak
membiarkan penilaian itu membuat kita percaya bahwa seluruh pemberian kita
tidak berarti.
Sebab mungkin ada
sesuatu yang sudah sampai ke akar.
Ada kehidupan
yang pernah terjaga.
Ada kebaikan yang
pernah tumbuh.
Ada seseorang
yang pernah merasakan kasih.
Ada doa yang
pernah dinaikkan dengan sungguh-sungguh.
Ada rumah yang
pernah dibangun dengan harapan yang tulus.
Tidak semuanya
sia-sia hanya karena akhirnya tidak menjadi seperti yang kita bayangkan.
Maka kalau hari
ini aku berdoa untuk menjadi sekuat hujan bulan Juni, aku tidak sedang meminta
Tuhan membuatku kuat supaya aku bisa terus menderita.
Aku juga tidak
sedang meminta kemampuan untuk terus memberi sampai tidak ada lagi yang tersisa
dari diriku.
Aku hanya ingin
mempunyai ketabahan untuk menerima bahwa aku tidak bisa menjadi musim penghujan
bagi semua orang.
Bahwa aku tidak
harus menyelamatkan semuanya.
Bahwa aku tidak
harus membuktikan nilai diriku dengan memberikan lebih banyak dan lebih banyak
lagi hanya supaya akhirnya dianggap cukup.
Tuhan,
kalau selama ini
aku sudah menjadi rintik-rintik kecil di tengah sebuah kemarau, tolong ajari
aku percaya bahwa Engkau melihat setiap tetesnya.
Kalau ada yang
sampai ke akar, biarlah ia menjadi kehidupan.
Kalau ada yang
menguap tanpa pernah terlihat hasilnya, ajari aku untuk merelakannya.
Kalau ada yang tetap mengatakan bahwa hujanku tidak cukup,
ingatkan aku bahwa tugasku bukan menjadi seluruh langit.
Dan kalau musim
memang harus berganti, ajari aku untuk tidak merasa bersalah karena aku tidak
berhasil menghentikan kemarau seorang diri.
Juni telah
berlalu.
Bulan yang begitu
berarti bagiku itu tahun ini sekali lagi membawa hujan.
Dulu mungkin aku
akan menganggapnya sebagai sebuah kebetulan kecil yang menyenangkan.
Sekarang aku
ingin menyimpannya sebagai pengingat.
Bahwa hujan bukan
hanya hujan yang turun dengan deras dan semua orang langsung melihat
manfaatnya.
Tetapi ada pula
hujan bulan Juni. Sedikit. Diam-diam. Tidak mampu mengubah seluruh musim. Mungkin
tidak pernah dianggap cukup. Namun tetap memberikan apa yang dimilikinya kepada
kehidupan.
Dan kalau suatu
hari aku kembali merasa bahwa semua yang sudah kulakukan tidak cukup, aku ingin
mengingat hujan itu.
Tidak semua
yang tidak cukup untuk menyelamatkan semuanya berarti tidak berarti apa-apa.
Kadang beberapa
tetes saja sudah sampai ke akar. Dan mungkin untuk hari itu, itu sudah cukup.
Tuhan,
mampukan aku untuk sekuat hujan bulan Juni.


0 komentar:
Posting Komentar