Jumat, 07 Agustus 2026

Hujan Bulan Juni


Juni adalah musim kemarau. Langit bulan Juni tidak seperti langit pada musim penghujan yang bisa memberikan air sebanyak yang dibutuhkan bumi. Jika hujan datang, mungkin ia hanya sebentar. Hanya rintik yang jatuh di antara hari-hari yang tetap kering.

Tidak cukup untuk mengakhiri kemarau.

Tidak cukup untuk membuat tanah benar-benar basah.

Mungkin bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pohon berbunga yang menunggunya.

Tetapi hujan itu tetap turun.

Sedikit airnya tetap mencari jalan ke tanah.

Sebagian mungkin menguap. Sebagian tertinggal di daun. Sebagian hilang tanpa pernah kita tahu ke mana.

Tetapi mungkin ada beberapa tetes yang akhirnya sampai ke akar.

Tidak cukup untuk membuat kemarau pergi.

Tetapi cukup untuk membantu sebuah kehidupan bertahan satu hari lagi.

Dan tiba-tiba aku mengerti mengapa hujan bulan Juni harus menjadi hujan yang TABAH.

Karena mungkin ada jenis ketabahan yang paling melelahkan:

ketika kita sudah memberikan LEBIH DARI yang kita punya, tetapi apa yang kita berikan tetap tidak pernah terasa cukup.

Ketika kita sudah mencoba mencintai dengan cara terbaik yang kita tahu. Tetapi pada akhirnya kita tetap berhadapan dengan kenyataan bahwa seluruh usaha itu tidak mampu membuat musim berubah.

Barangkali itulah yang paling menyakitkan. Bukan karena kita tidak berusaha. Justru karena kita tahu betapa kerasnya kita sudah berusaha.

Hujan bulan Juni tidak gagal menjadi hujan hanya karena ia tidak mampu mengakhiri kemarau. Ia tetap hujan. Setiap tetesnya tetap air. Setiap rintiknya tetap membawa kehidupan.

Dan sesuatu tidak menjadi tidak berharga hanya karena ia tidak mampu menyelamatkan semuanya.

Aku membutuhkan waktu untuk mengerti itu.

Bahwa mungkin tugasku memang tidak pernah untuk mengendalikan musim.

Aku bisa memberikan air. Tetapi aku tidak bisa memerintahkan pohon untuk berbunga.

Aku bisa menjaga. Tetapi aku tidak bisa menentukan pilihan orang lain.

Aku bisa mengasihi. Tetapi kasihku tidak mempunyai kuasa untuk mengubah seseorang yang tidak memilih berubah.

Aku bisa berdoa. Tetapi aku tidak bisa menulis sendiri bagaimana Tuhan harus menjawabnya.

Dan mungkin menerima keterbatasan itu bukan berarti aku gagal. Mungkin itu justru bagian tersulit dari menjadi TABAH.

Mengetahui bahwa apa yang kita berikan mungkin tidak pernah dianggap cukup, tetapi tidak membiarkan penilaian itu membuat kita percaya bahwa seluruh pemberian kita tidak berarti.

Sebab mungkin ada sesuatu yang sudah sampai ke akar.

Ada kehidupan yang pernah terjaga.

Ada kebaikan yang pernah tumbuh.

Ada seseorang yang pernah merasakan kasih.

Ada doa yang pernah dinaikkan dengan sungguh-sungguh.

Ada rumah yang pernah dibangun dengan harapan yang tulus.

Tidak semuanya sia-sia hanya karena akhirnya tidak menjadi seperti yang kita bayangkan.

Maka kalau hari ini aku berdoa untuk menjadi sekuat hujan bulan Juni, aku tidak sedang meminta Tuhan membuatku kuat supaya aku bisa terus menderita.

Aku juga tidak sedang meminta kemampuan untuk terus memberi sampai tidak ada lagi yang tersisa dari diriku.

Aku hanya ingin mempunyai ketabahan untuk menerima bahwa aku tidak bisa menjadi musim penghujan bagi semua orang.

Bahwa aku tidak harus menyelamatkan semuanya.

Bahwa aku tidak harus membuktikan nilai diriku dengan memberikan lebih banyak dan lebih banyak lagi hanya supaya akhirnya dianggap cukup.

Tuhan,

kalau selama ini aku sudah menjadi rintik-rintik kecil di tengah sebuah kemarau, tolong ajari aku percaya bahwa Engkau melihat setiap tetesnya.

Kalau ada yang sampai ke akar, biarlah ia menjadi kehidupan.

Kalau ada yang menguap tanpa pernah terlihat hasilnya, ajari aku untuk merelakannya.

Kalau ada yang tetap mengatakan bahwa hujanku tidak cukup, ingatkan aku bahwa tugasku bukan menjadi seluruh langit.

Dan kalau musim memang harus berganti, ajari aku untuk tidak merasa bersalah karena aku tidak berhasil menghentikan kemarau seorang diri.

Juni telah berlalu.

Bulan yang begitu berarti bagiku itu tahun ini sekali lagi membawa hujan.

Dulu mungkin aku akan menganggapnya sebagai sebuah kebetulan kecil yang menyenangkan.

Sekarang aku ingin menyimpannya sebagai pengingat.

Bahwa hujan bukan hanya hujan yang turun dengan deras dan semua orang langsung melihat manfaatnya.

Tetapi ada pula hujan bulan Juni. Sedikit. Diam-diam. Tidak mampu mengubah seluruh musim. Mungkin tidak pernah dianggap cukup. Namun tetap memberikan apa yang dimilikinya kepada kehidupan.

Dan kalau suatu hari aku kembali merasa bahwa semua yang sudah kulakukan tidak cukup, aku ingin mengingat hujan itu.

Tidak semua yang tidak cukup untuk menyelamatkan semuanya berarti tidak berarti apa-apa.

Kadang beberapa tetes saja sudah sampai ke akar. Dan mungkin untuk hari itu, itu sudah cukup.

Tuhan, mampukan aku untuk sekuat hujan bulan Juni.

 

0 komentar:

slide show

wibiya widget